Efektifitas Atraumatic Care Melalui Terapi Storytelling Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah Selama Hospitalisasi
Categorie(s):
SKRIPSI
Author(s):
RIFVAL DWI SANDY (20250122045)
Tahun:
2026
Nama Penulis:
RIFVAL DWI SANDY
Item Type:
Karya ilmiah mahasiswa (tesis, skripsi, KTI, laporan PKL)
Keyword(s):
Atraumatic Care, Hospitalisasi, Kecemasan, Prasekolah, Storytelling
Abstract :
Hospitalisasi berpotensi menimbulkan kecemasan pada anak usia prasekolah (36 tahun) akibat lingkungan asing, prosedur medis yang menyakitkan, dan perpisahan dari rutinitas harian. WHO mencatat 530 juta anak dirawat di rumah sakit pada tahun 2022, dengan 63% menunjukkan gejala trauma. Di Indonesia, lebih dari tiga perempat anak rawat inap mengalami dampak hospitalisasi sedang hingga berat. Studi di Provinsi Jambi mengonfirmasi mayoritas anak mengalami kecemasan sedang hingga berat selama perawatan. Terapi storytelling sebagai bagian dari atraumatic care dinilai efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk mengatasi masalah ini. Studi ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas atraumatic care melalui terapi storytelling terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah selama hospitalisasi. Metode scoping review dilakukan melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci storytelling, kecemasan, prasekolah, dan hospitalisasi, rentang tahun 20212025. Dari 286 artikel teridentifikasi, 6 memenuhi kriteria inklusi dengan desain pre-eksperimental one group pretestposttest atau Randomized Controlled Trial (RCT) pada anak usia 36 tahun. Keenam jurnal menerapkan bentuk storytelling yang beragam: boneka tangan berbasis budaya lokal (Lameky and Parinussa, 2025), buku dongeng lisan (Oktarini and Prima, 2024), video animasi YouTube Nussa dan Rara (Oktavianto et al., 2024), dongeng lisan bernilai pendidikan dan agama (Ramadhan, 2022), buku cerita bergambar bernilai positif (Sadiyah et al., 2024), serta storytelling lisan terstruktur dalam desain RCT (Abdi et al., 2025). Seluruh artikel menunjukkan penurunan kecemasan signifikan setelah terapi storytelling (p < 0,05; p = 0,001; 0,000; 0,001; 0,000; 0,001; 0,001). Sebelum intervensi sebagian besar anak berada pada kategori kecemasan sedang hingga berat; setelah intervensi bergeser ke kecemasan ringan hingga sedang. Studi RCT (Abdi et al., 2025) mengonfirmasi storytelling lebih efektif daripada play therapy (p < 0,001 dan p = 0,65). Usia, jenis kelamin, riwayat hospitalisasi, dan kesesuaian konten cerita dengan budaya lokal memengaruhi efektivitas intervensi. Terapi storytelling terbukti efektif sebagai intervensi atraumatic care non-farmakologis dalam menurunkan kecemasan anak usia prasekolah selama hospitalisasi dan direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam protokol keperawatan anak di ruang rawat inap.