EFEKTIVITAS MOBILISASI DINI DALAM PEMULIHAN FUNGSI GASTROINTESTINAL PASCA BEDAH ABDOMEN : LITERATUR RIVIEW
Categorie(s):
SKRIPSI
Author(s):
RISKA UTAMI
Tahun:
2026
Nama Penulis:
RISKA UTAMI
Item Type:
Karya ilmiah mahasiswa (tesis, skripsi, KTI, laporan PKL)
Abstract :
EFEKTIVITAS MOBILISASI DINI DALAM PEMULIHAN
FUNGSI GASTROINTESTINAL PASCA BEDAH
ABDOMEN: LITERATURE REVIEW
ABSTRAK
Pemulihan fungsi gastrointestinal merupakan komponen penting dalam perawatan
pasien pasca bedah abdomen. Gangguan motilitas usus seperti postoperative ileus
sering terjadi setelah pembedahan intra-abdomen hingga memperpanjang lama hari
rawat serta meningkatkan risiko komplikasi. Mobilisasi dini merupakan salah satu
intervensi keperawatan yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced
Recovery After Surgery (ERAS) untuk menstimulasi aktivitas peristaltik usus dan
mempercepat proses pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
efektivitas mobilisasi dini dalam pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini. Metode yang
digunakan adalah literature review dengan pendekatan sintesis naratif. Pencarian
artikel dilakukan melalui basis data PubMed, ScienceDirect dan Google Scholar
menggunakan kata kunci yang relevan dengan mobilisasi dini dan pemulihan
gastrointestinal. Proses seleksi literatur mengikuti alur PRISMA, dengan kriteria
inklusi berbahasa Indonesia atau Inggris, dipublikasikan tahun 20202025, tersedia
full-text open access, serta membahas mobilisasi dini pada pasien pasca bedah
abdomen. Hasil analisis menunjukkan bahwa mobilisasi dini berhubungan dengan
percepatan pemulihan fungsi gastrointestinal yang ditandai dengan lebih cepatnya
waktu keluarnya flatus pertama, normalisasi bising usus, serta penurunan risiko
postoperative ileus. Selain itu, mobilisasi dini juga berkontribusi terhadap
pengurangan lama hari rawat dan meningkatkan proses pemulihan pasien secara
keseluruhan. Protokol mobilisasi dini umumnya dimulai dalam 624 jam pasca
operasi dengan frekuensi 24 kali per hari dan durasi aktivitas yang disesuaikan
dengan toleransi pasien dan keseluruh artike pengaruh yang signifikan dengan p <
0,05. Kesimpulannya, mobilisasi dini merupakan intervensi keperawatan yang
efektif, aman dan berbasis bukti dalam mempercepat pemulihan fungsi
gastrointestinal pada pasien pasca bedah abdomen.
Kata kunci : Fungsi gastrointestinal, Mobilisasi dini, Bedah abdomen, ERAS.
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemulihan fungsi gastrik (gastrointestinal) setelah operasi abdomen
merupakan salah satu komponen kunci dalam proses perawatan pasca pembedahan
karena gangguan motilitas usus sangat umum terjadi dan dapat memperlambat
pemulihan keseluruhan pasien. Post operative ileus merupakan gangguan motilitas
gastrointestinal yang umum terjadi setelah operasi abdomen dan berdampak
signifikan pada pemulihan pasien (Patrick, Thoetchai ., et al 2022). Intervensi bedah
intra-abdomen, termasuk laparotomi dan reseksi gastrointestinal, memiliki korelasi
signifikan dengan onset postoperative ileus (POI), sebuah gangguan motilitas usus
fungsional yang bersifat transien. Secara klinis, POI bermanifestasi sebagai
kegagalan aktivitas propulsif saluran cerna yang ditandai dengan keterlambatan
evakuasi flatus, intoleransi asupan oral, serta distensi abdomen. Kondisi ini tidak
hanya mengeksalasi risiko morbiditas pascabedah, tetapi juga berkontribusi
langsung terhadap protraksi durasi rawat inap (length of stay) dan peningkatan
beban biaya kesehatan (Matko et al., 2022).
POI terjadi akibat kombinasi mekanisme fisiologis yang kompleks
meliputi: trauma jaringan akibat manipulasi usus, respon inflamasi lokal yang
memicu gangguan peristaltik, aktivasi sistem saraf simpatis yang menghambat
motilitas usus, serta penggunaan analgesik opioid yang menurunkan kontraksi otot
polos usus melalui aktivasi reseptor -opioid. Imobilisasi pasca operasi
memperburuk keadaan ini karena berkurangnya stimulasi mekanik terhadap saluran
cerna, sehingga transit gastrointestinal semakin lambat.
Postoperative ileus masih menjadi salah satu komplikasi yang umum
terjadi pada pasien pasca operasi abdomen. Intervensi bedah seperti laparotomi,
reseksi gastrointestinal, dan tindakan intraabdomen lainnya dapat memicu
gangguan motilitas usus akibat trauma jaringan dan manipulasi saluran cerna
1
2
selama operasi. Secara klinis, kondisi ini tidak hanya meningkatkan
ketidaknyamanan pasien, tetapi juga berdampak pada peningkatan risiko
komplikasi pascabedah, keterlambatan pemulihan fungsional, serta meningkatnya
biaya pelayanan kesehatan (Sommer, 2025).
Terjadinya postoperative ileus dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis
dan klinis. Trauma jaringan selama pembedahan memicu respon inflamasi lokal
yang mengganggu aktivitas peristaltik usus. Selain itu, aktivasi sistem saraf
simpatis, penggunaan analgesik opioid, efek anestesi, serta imobilisasi pasca
operasi turut memperlambat pemulihan fungsi gastrointestinal. Kondisi imobilisasi
yang berkepanjangan menyebabkan stimulasi mekanik terhadap saluran cerna
menurun sehingga transit gastrointestinal menjadi lebih lambat dan memperburuk
gangguan motilitas usus pasca operasi (Rodrguez-reyes et al., 2025).
Salah satu intervensi nonfarmakologis yang direkomendasikan dalam
perawatan pasca bedah abdomen adalah mobilisasi dini. Mobilisasi dini merupakan
aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara bertahap sejak 624 jam pertama pasca
operasi, meliputi perubahan posisi, duduk, berdiri, hingga berjalan sesuai toleransi
pasien. Intervensi ini menjadi bagian penting dalam protokol Enhanced Recovery
After Surgery (ERAS) karena dinilai mampu membantu mempercepat pemulihan
pasien melalui stimulasi aktivitas peristaltik usus, peningkatan perfusi organ
gastrointestinal, serta penurunan komplikasi akibat imobilisasi berkepanjangan
(Yona and Maria, 2023).
Dalam praktik keperawatan modern, mobilisasi dini tidak hanya
dipandang sebagai aktivitas fisik biasa, tetapi merupakan intervensi keperawatan
berbasis bukti (evidence-based nursing intervention) yang dilakukan secara
terstruktur dan terencana. Perawat memiliki peran penting dalam melakukan
pengkajian kesiapan pasien, memantau tanda vital sebelum dan sesudah mobilisasi,
memberikan edukasi, serta mendukung pasien agar mampu berpartisipasi aktif
dalam proses pemulihan. Pelaksanaan mobilisasi dini yang optimal diharapkan
dapat mempercepat kembalinya fungsi gastrointestinal dan mengurangi risiko
postoperative ileus pada pasien pasca bedah abdomen (Arslan, 2025). Dan perawat
2
3
juga berperan dalam edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya mobilisasi
dini, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan partisipasi aktif pasien dalam
proses pemulihan. Dukungan keluarga telah terbukti berkorelasi dengan
kemampuan pasien melakukan mobilisasi dini dan meningkatkan keberhasilan
intervensi (Nuriyanti, 2024).
Beberapa penelitian tinjauan literatur dan observasional telah
menunjukkan bahwa pasien yang menerima intervensi mobilisasi dini
pascapembedahan abdominal mengalami percepatan fungsi gastrointestinal,
termasuk lebih cepatnya waktu keluarnya gas pertama (first flatus) dan normalisasi
pergerakan usus. Selain itu, mobilisasi dini turut dikaitkan dengan menurunnya
komplikasi seperti distensi abdomen dan konstipasi pascapembedahan (zta, Yava
and Koyuncu, 2024).
Meskipun bukti klinis menunjukkan manfaat mobilisasi dini secara
umum, literatur juga mencatat bahwa kualitas metodologi dan keseragaman
protokol penelitian masih beragam, sehingga dibutuhkan review sistematis untuk
mengidentifikasi bukti terbaik yang tersedia terkait efektivitas intervensi ini dalam
pemulihan fungsi gastrik pasca bedah abdomen (Willner, Teske and Hackert, 2023).
Namun demikian, kualitas metodologi penelitian dan standar protokol mobilisasi
pada berbagai studi masih beragam. Variasi dalam durasi, frekuensi, dan intensitas
mobilisasi seringkali menyulitkan penarikan kesimpulan umum mengenai
efektivitas intervensi ini. Oleh karena itu, diperlukan tinjauan literatur (literature
review) untuk mengidentifikasi bukti ilmiah yang paling kredibel dan konsisten
mengenai efektivitas mobilisasi dini dalam pemulihan fungsi gastrik pascabedah
abdomen serta memberikan rekomendasi terhadap praktik keperawatan (Greenfield
et al., 2021).
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dalam bentuk literature review mengenai efektivitas mobilisasi dini dalam
pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien pasca bedah abdomen. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai manfaat mobilisasi dini,
3
4
indikator pemulihan gastrointestinal, variasi protokol mobilisasi, serta implikasinya
terhadap praktik keperawatan berbasis bukti pada pasien pasca bedah abdomen.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena diatas, adapun rumusan masalah dalam kajian
tinjauan literatur ini adalah Bagaimanakah efektivitas mobilisasi dini sebagai
intervensi keperawatan dalam pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini ?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Menjelaskan dan menganalisis efektivitas mobilisasi dini sebagai
intervensi keperawatan dalam pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini.
1.3.2. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi pengaruh mobilisasi dini terhadap pemulihan fungsi
gastrointestinal pada pasien pasca bedah abdomen.
2) Mengidentifikasi indikator pemulihan fungsi gastrointestinal pada
pasien pasca bedah abdomen setelah dilakukan mobilisasi dini.
3) Menganalisis protokol mobilisasi dini yang digunakan pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan hasil penelitian terdahulu.
4) Mengidentifikasi peran perawat dalam pelaksanaan mobilisasi dini pada
pasien pasca bedah abdomen.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Tempat Penelitian (Praktik)
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan
dalam menyusun atau memperbarui Standar Prosedur Operasional (SPO)
terkait mobilisasi dini pada pasien pasca bedah abdomen. Hal ini diharapkan
dapat membantu perawat di ruangan untuk memberikan intervensi yang
4
5
lebih terstruktur dan berbasis bukti (evidence-based practice) guna
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat menjadi sumber referensi ilmiah tambahan
dalam pengembangan kurikulum keperawatan, terutama pada mata kuliah
keperawatan medikal bedah. Selain itu hasil kajian literatur ini dapat
digunakan sebagai bahan ajar, diskusi akademik, dan penguatan kompetensi
mahasiswa dalam memahami pentingnya mobilisasi dini pada pasien pasca
bedah abdomen. Temuan penelitian juga dapat mendorong pengembangan
penelitian serupa di tingkat mahasiswa.
1.4.3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar atau referensi
awal bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian primer
(seperti studi kuantitatif atau eksperimen) dengan fokus pada standarisasi
protokol mobilisasi dini atau variabel-variabel lain yang terkait dengan
pemulihan gastrointestinal.
5
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Badah Abdomen Dan Dampaknya Terhadap Gastro Intertinal
Bedah abdomen adalah prosedur bedah yang dilakukan pada rongga perut
dan organ-organ di dalamnya, termasuk lambung, usus halus, usus besar, hati,
pankreas, dan organ pencernaan lainnya. Intervensi bedah ini mencakup berbagai
prosedur, seperti reseksi usus, laparotomi, anastomosis, dan prosedur-onkologi
yang memerlukan manipulasi langsung terhadap struktur gastrointestinal. Prosedur
bedah tersebut sering kali dilakukan dalam kondisi patologis yang serius, seperti
kanker kolon, obstruksi usus, atau infeksi intra-abdominal. Manipulasi jaringan
usus selama operasi menghasilkan respon fisiologis yang kompleks termasuk
trauma jaringan, aktivitas inflamasi, dan gangguan sistem saraf otonom yang
berkontribusi terhadap perubahan motilitas usus.
Pasca bedah abdomen, banyak pasien mengalami gangguan pada fungsi
gastrointestinal, yang biasa dikenal sebagai postoperative ileus (POI) atau ileus
pasca operasi. POI merupakan kondisi di mana motilitas usus terhambat sementara
setelah operasi, sehingga mengakibatkan tertundanya pergerakan gas dan isi usus,
intoleransi terhadap asupan oral, distensi abdomen, serta keterlambatan pemulihan
fungsi saluran cerna. Kondisi ini dapat berlangsung beberapa hari pasca operasi dan
merupakan salah satu penyebab utama perpanjangan masa rawat inap serta
peningkatan biaya perawatan (Traeger, Koullouros and Kroon, 2023).
Patofisiologi POI sangat kompleks dan melibatkan beberapa mekanisme.
Aktivasi respon inflamasi akibat trauma jaringan usus memicu infiltrasi sel imun
seperti makrofag dan mastosit yang melepaskan sitokin pro-inflamasi. Respon saraf
otonom juga berubah, di mana aktivitas sistem saraf simpatik meningkat dan
menghambat motilitas usus, sementara parasimpatis kurang terstimulasi. Selain itu,
penggunaan obat analgesik opioid pasca operasi menghambat kontraksi otot polos
usus melalui aktivasi reseptor -opioid, sehingga memperparah ileus. Faktor lain
seperti anestesi, manipulasi usus, dan manipulasi abdominal juga berkontribusi
6
7
pada dysbiosis mikrobiota usus dan perubahan metabolitnya, yang turut
memengaruhi pemulihan motilitas intestinal (Ma et al., 2023).
Gangguan fungsi gastrointestinal pasca operasi tidak hanya berdampak
fisiologis, tetapi juga klinis dan sosial ekonomi. Secara klinis, POI dapat
meningkatkan risiko komplikasi seperti muntah, malnutrisi, aspirasi, dan infeksi
saluran cerna. Secara sistem pelayanan kesehatan, POI berkontribusi terhadap lama
tinggal di rumah sakit yang lebih panjang, peningkatan penggunaan sumber daya,
dan biaya perawatan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, analisis meta-analisis
menunjukkan bahwa pasien yang mengalami POI memiliki kemungkinan lebih
tinggi memperpanjang masa rawat dan meningkatkan biaya layanan kesehatan
dibandingkan pasien tanpa POI pasca operasi abdomen (Traeger, Koullouros and
Kroon, 2023).
2.2. Konsep Dasar Pemulihan Fungsi Gastrointestinal
1. Pengertian Pemulihan Fungsi Gastrointestinal
Pemulihan fungsi gastrointestinal adalah proses kembalinya
aktivitas normal sistem pencernaan setelah terganggu oleh kondisi
patologis atau intervensi medis, seperti tindakan bedah abdomen.
Aktivitas ini mencakup koordinasi motilitas usus untuk mendorong isi
saluran cerna, penyerapan nutrisi, serta pengosongan lambung dan
defekasi. Motilitas gastrointestinal yang normal ditandai dengan kontraksi
dan relaksasi otot polos saluran cerna secara teratur melalui interaksi
kompleks antara sistem saraf enterik, hormonal, dan faktor lokal di
dinding usus. Proses ini penting untuk mempertahankan aliran makanan
yang efisien dari lambung ke usus halus dan akhirnya ke usus besar
sehingga nutrisi dan elektrolit dapat diabsorpsi secara optimal. Perubahan
atau gangguan pada salah satu komponen regulasi ini dapat menghambat
pemulihan fungsi gastrointestinal pasca operasi (Prawira and Sueta,
2020).
7
8
2. Proses Fisiologis Motilitas Gastrointestinal Normal
Secara fisiologis, motilitas gastrointestinal tergantung pada tiga
jenis gerakan utama: mixing (pencampuran isi usus), propulsion
(dorongan isi ke depan), dan separation (pemilahan antara isi padat dan
cair). Ketiga pola ini bersifat terkoordinasi dan dipengaruhi oleh sistem
saraf otonom serta refleks enterik lokal yang bertujuan mempertahankan
transit yang efisien dalam saluran pencernaan. Ketika sistem ini bekerja
efektif, peristaltik usus, sekresi enzim pencernaan, dan koordinasi sfingter
bekerja secara harmonis untuk menjamin fungsi gastrointestinal yang
sehat (Prawira and Sueta, 2020).
Pada keadaan pasca operasi, terutama setelah tindakan bedah
abdomen besar, fungsi motilitas ini terganggu oleh beberapa faktor.
Trauma jaringan akibat manipulasi usus, efek anestesi umum, respon
inflamasi lokal dan sistemik, serta pemberian obat-obatan tertentu seperti
analgesik opioid, semuanya dapat menekan sistem saraf enterik dan
memperlambat kontraksi otot polos usus. Kondisi ini menyebabkan
ditegakkannya fenomena yang dikenal sebagai postoperative ileus (POI),
yaitu penurunan atau hilangnya koordinasi gerakan usus yang
menghambat pengosongan lambung dan transit usus. POI umumnya
ditandai dengan keterlambatan keluarnya gas (flatus), intoleransi terhadap
asupan oral, distensi abdomen, dan keterlambatan buang air besar.
3. Gangguan Motilitas Gastrointestinal Pasca Bedah Abdomen
(Postoperative Ileus)
Dalam konteks klinis, pemulihan fungsi gastrointestinal dinilai
dari parameter-parameter yang terkait dengan kembalinya motilitas usus
yang efektif. Parameter tersebut mencakup waktu kemunculan bising usus
yang terdengar pada auskultasi, waktu keluarnya gas pertama (first flatus),
waktu pengosongan lambung, serta kemampuan toleransi terhadap diet
oral. Kembalinya salah satu atau beberapa indikator ini menjadi tanda
bahwa saluran cerna mulai berfungsi kembali secara normal setelah
8
9
operasi. Secara umum, peristaltic wave yang terkoordinasi merupakan
dasar utama pemulihan fungsi ini, di mana reseptor dan refleks saraf
mengatur kontraksi otot untuk mendorong isi usus melalui saluran cerna
(Gandi, dkk., 2022).
4. Manifestasi Klinis dan Dampak Postoperative Ileus terhadap Pemulihan
Pasien
Pemulihan fungsi gastrointestinal tidak hanya bergantung pada
faktor fisiologis intrinsik, tetapi juga dipengaruhi oleh intervensi
perioperatif seperti pemberian nutrisi awal, mobilisasi dini, penggunaan
prokinetik, serta pengelolaan nyeri yang baik tanpa mengandalkan opioid
jangka panjang. Sebagai contoh, beberapa studi menunjukkan bahwa
pemberian agen yang meningkatkan motilitas usus dapat mempercepat
pemulihan transit gastrointestinal, mempercepat defekasi pertama, dan
meningkatkan toleransi terhadap diet oral. Ini menunjukkan pentingnya
kombinasi pendekatan klinis dan non-farmakologis dalam mendukung
kembalinya fungsi GI secara optimal di fase pascapembedahan (Gosavi et
al., 2025).
Secara ringkas pemulihan fungsi gastrointestinal adalah proses
kompleks yang mencerminkan kembalinya koordinasi motilitas usus,
yang menjadi indikator utama efektivitas pemulihan pasca operasi.
Pemahaman konsep dasar ini menjadi landasan penting dalam kajian
literatur yang lebih lanjut tentang efek intervensi seperti mobilisasi dini
terhadap percepatan pemulihan fungsi GI pasca bedah abdomen.
2.3. Mobilisasi Dini dalam Perawatan Pasca Bedah Abdomen
1. Pengertian Mobilisasi Dini Pasca Bedah
Mobilisasi dini pasca bedah adalah intervensi keperawatan yang
dilakukan untuk menggerakkan pasien dari posisi berbaring menjadi
berdiri atau berjalan dalam periode awal setelah pembedahan, biasanya
dalam 24 jam pertama setelah operasi, jika kondisi pasien stabil secara
9
FUNGSI GASTROINTESTINAL PASCA BEDAH
ABDOMEN: LITERATURE REVIEW
ABSTRAK
Pemulihan fungsi gastrointestinal merupakan komponen penting dalam perawatan
pasien pasca bedah abdomen. Gangguan motilitas usus seperti postoperative ileus
sering terjadi setelah pembedahan intra-abdomen hingga memperpanjang lama hari
rawat serta meningkatkan risiko komplikasi. Mobilisasi dini merupakan salah satu
intervensi keperawatan yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced
Recovery After Surgery (ERAS) untuk menstimulasi aktivitas peristaltik usus dan
mempercepat proses pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
efektivitas mobilisasi dini dalam pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini. Metode yang
digunakan adalah literature review dengan pendekatan sintesis naratif. Pencarian
artikel dilakukan melalui basis data PubMed, ScienceDirect dan Google Scholar
menggunakan kata kunci yang relevan dengan mobilisasi dini dan pemulihan
gastrointestinal. Proses seleksi literatur mengikuti alur PRISMA, dengan kriteria
inklusi berbahasa Indonesia atau Inggris, dipublikasikan tahun 20202025, tersedia
full-text open access, serta membahas mobilisasi dini pada pasien pasca bedah
abdomen. Hasil analisis menunjukkan bahwa mobilisasi dini berhubungan dengan
percepatan pemulihan fungsi gastrointestinal yang ditandai dengan lebih cepatnya
waktu keluarnya flatus pertama, normalisasi bising usus, serta penurunan risiko
postoperative ileus. Selain itu, mobilisasi dini juga berkontribusi terhadap
pengurangan lama hari rawat dan meningkatkan proses pemulihan pasien secara
keseluruhan. Protokol mobilisasi dini umumnya dimulai dalam 624 jam pasca
operasi dengan frekuensi 24 kali per hari dan durasi aktivitas yang disesuaikan
dengan toleransi pasien dan keseluruh artike pengaruh yang signifikan dengan p <
0,05. Kesimpulannya, mobilisasi dini merupakan intervensi keperawatan yang
efektif, aman dan berbasis bukti dalam mempercepat pemulihan fungsi
gastrointestinal pada pasien pasca bedah abdomen.
Kata kunci : Fungsi gastrointestinal, Mobilisasi dini, Bedah abdomen, ERAS.
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemulihan fungsi gastrik (gastrointestinal) setelah operasi abdomen
merupakan salah satu komponen kunci dalam proses perawatan pasca pembedahan
karena gangguan motilitas usus sangat umum terjadi dan dapat memperlambat
pemulihan keseluruhan pasien. Post operative ileus merupakan gangguan motilitas
gastrointestinal yang umum terjadi setelah operasi abdomen dan berdampak
signifikan pada pemulihan pasien (Patrick, Thoetchai ., et al 2022). Intervensi bedah
intra-abdomen, termasuk laparotomi dan reseksi gastrointestinal, memiliki korelasi
signifikan dengan onset postoperative ileus (POI), sebuah gangguan motilitas usus
fungsional yang bersifat transien. Secara klinis, POI bermanifestasi sebagai
kegagalan aktivitas propulsif saluran cerna yang ditandai dengan keterlambatan
evakuasi flatus, intoleransi asupan oral, serta distensi abdomen. Kondisi ini tidak
hanya mengeksalasi risiko morbiditas pascabedah, tetapi juga berkontribusi
langsung terhadap protraksi durasi rawat inap (length of stay) dan peningkatan
beban biaya kesehatan (Matko et al., 2022).
POI terjadi akibat kombinasi mekanisme fisiologis yang kompleks
meliputi: trauma jaringan akibat manipulasi usus, respon inflamasi lokal yang
memicu gangguan peristaltik, aktivasi sistem saraf simpatis yang menghambat
motilitas usus, serta penggunaan analgesik opioid yang menurunkan kontraksi otot
polos usus melalui aktivasi reseptor -opioid. Imobilisasi pasca operasi
memperburuk keadaan ini karena berkurangnya stimulasi mekanik terhadap saluran
cerna, sehingga transit gastrointestinal semakin lambat.
Postoperative ileus masih menjadi salah satu komplikasi yang umum
terjadi pada pasien pasca operasi abdomen. Intervensi bedah seperti laparotomi,
reseksi gastrointestinal, dan tindakan intraabdomen lainnya dapat memicu
gangguan motilitas usus akibat trauma jaringan dan manipulasi saluran cerna
1
2
selama operasi. Secara klinis, kondisi ini tidak hanya meningkatkan
ketidaknyamanan pasien, tetapi juga berdampak pada peningkatan risiko
komplikasi pascabedah, keterlambatan pemulihan fungsional, serta meningkatnya
biaya pelayanan kesehatan (Sommer, 2025).
Terjadinya postoperative ileus dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis
dan klinis. Trauma jaringan selama pembedahan memicu respon inflamasi lokal
yang mengganggu aktivitas peristaltik usus. Selain itu, aktivasi sistem saraf
simpatis, penggunaan analgesik opioid, efek anestesi, serta imobilisasi pasca
operasi turut memperlambat pemulihan fungsi gastrointestinal. Kondisi imobilisasi
yang berkepanjangan menyebabkan stimulasi mekanik terhadap saluran cerna
menurun sehingga transit gastrointestinal menjadi lebih lambat dan memperburuk
gangguan motilitas usus pasca operasi (Rodrguez-reyes et al., 2025).
Salah satu intervensi nonfarmakologis yang direkomendasikan dalam
perawatan pasca bedah abdomen adalah mobilisasi dini. Mobilisasi dini merupakan
aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara bertahap sejak 624 jam pertama pasca
operasi, meliputi perubahan posisi, duduk, berdiri, hingga berjalan sesuai toleransi
pasien. Intervensi ini menjadi bagian penting dalam protokol Enhanced Recovery
After Surgery (ERAS) karena dinilai mampu membantu mempercepat pemulihan
pasien melalui stimulasi aktivitas peristaltik usus, peningkatan perfusi organ
gastrointestinal, serta penurunan komplikasi akibat imobilisasi berkepanjangan
(Yona and Maria, 2023).
Dalam praktik keperawatan modern, mobilisasi dini tidak hanya
dipandang sebagai aktivitas fisik biasa, tetapi merupakan intervensi keperawatan
berbasis bukti (evidence-based nursing intervention) yang dilakukan secara
terstruktur dan terencana. Perawat memiliki peran penting dalam melakukan
pengkajian kesiapan pasien, memantau tanda vital sebelum dan sesudah mobilisasi,
memberikan edukasi, serta mendukung pasien agar mampu berpartisipasi aktif
dalam proses pemulihan. Pelaksanaan mobilisasi dini yang optimal diharapkan
dapat mempercepat kembalinya fungsi gastrointestinal dan mengurangi risiko
postoperative ileus pada pasien pasca bedah abdomen (Arslan, 2025). Dan perawat
2
3
juga berperan dalam edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya mobilisasi
dini, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan partisipasi aktif pasien dalam
proses pemulihan. Dukungan keluarga telah terbukti berkorelasi dengan
kemampuan pasien melakukan mobilisasi dini dan meningkatkan keberhasilan
intervensi (Nuriyanti, 2024).
Beberapa penelitian tinjauan literatur dan observasional telah
menunjukkan bahwa pasien yang menerima intervensi mobilisasi dini
pascapembedahan abdominal mengalami percepatan fungsi gastrointestinal,
termasuk lebih cepatnya waktu keluarnya gas pertama (first flatus) dan normalisasi
pergerakan usus. Selain itu, mobilisasi dini turut dikaitkan dengan menurunnya
komplikasi seperti distensi abdomen dan konstipasi pascapembedahan (zta, Yava
and Koyuncu, 2024).
Meskipun bukti klinis menunjukkan manfaat mobilisasi dini secara
umum, literatur juga mencatat bahwa kualitas metodologi dan keseragaman
protokol penelitian masih beragam, sehingga dibutuhkan review sistematis untuk
mengidentifikasi bukti terbaik yang tersedia terkait efektivitas intervensi ini dalam
pemulihan fungsi gastrik pasca bedah abdomen (Willner, Teske and Hackert, 2023).
Namun demikian, kualitas metodologi penelitian dan standar protokol mobilisasi
pada berbagai studi masih beragam. Variasi dalam durasi, frekuensi, dan intensitas
mobilisasi seringkali menyulitkan penarikan kesimpulan umum mengenai
efektivitas intervensi ini. Oleh karena itu, diperlukan tinjauan literatur (literature
review) untuk mengidentifikasi bukti ilmiah yang paling kredibel dan konsisten
mengenai efektivitas mobilisasi dini dalam pemulihan fungsi gastrik pascabedah
abdomen serta memberikan rekomendasi terhadap praktik keperawatan (Greenfield
et al., 2021).
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dalam bentuk literature review mengenai efektivitas mobilisasi dini dalam
pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien pasca bedah abdomen. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai manfaat mobilisasi dini,
3
4
indikator pemulihan gastrointestinal, variasi protokol mobilisasi, serta implikasinya
terhadap praktik keperawatan berbasis bukti pada pasien pasca bedah abdomen.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena diatas, adapun rumusan masalah dalam kajian
tinjauan literatur ini adalah Bagaimanakah efektivitas mobilisasi dini sebagai
intervensi keperawatan dalam pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini ?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Menjelaskan dan menganalisis efektivitas mobilisasi dini sebagai
intervensi keperawatan dalam pemulihan fungsi gastrointestinal pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini.
1.3.2. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi pengaruh mobilisasi dini terhadap pemulihan fungsi
gastrointestinal pada pasien pasca bedah abdomen.
2) Mengidentifikasi indikator pemulihan fungsi gastrointestinal pada
pasien pasca bedah abdomen setelah dilakukan mobilisasi dini.
3) Menganalisis protokol mobilisasi dini yang digunakan pada pasien
pasca bedah abdomen berdasarkan hasil penelitian terdahulu.
4) Mengidentifikasi peran perawat dalam pelaksanaan mobilisasi dini pada
pasien pasca bedah abdomen.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Tempat Penelitian (Praktik)
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan
dalam menyusun atau memperbarui Standar Prosedur Operasional (SPO)
terkait mobilisasi dini pada pasien pasca bedah abdomen. Hal ini diharapkan
dapat membantu perawat di ruangan untuk memberikan intervensi yang
4
5
lebih terstruktur dan berbasis bukti (evidence-based practice) guna
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat menjadi sumber referensi ilmiah tambahan
dalam pengembangan kurikulum keperawatan, terutama pada mata kuliah
keperawatan medikal bedah. Selain itu hasil kajian literatur ini dapat
digunakan sebagai bahan ajar, diskusi akademik, dan penguatan kompetensi
mahasiswa dalam memahami pentingnya mobilisasi dini pada pasien pasca
bedah abdomen. Temuan penelitian juga dapat mendorong pengembangan
penelitian serupa di tingkat mahasiswa.
1.4.3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar atau referensi
awal bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian primer
(seperti studi kuantitatif atau eksperimen) dengan fokus pada standarisasi
protokol mobilisasi dini atau variabel-variabel lain yang terkait dengan
pemulihan gastrointestinal.
5
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Badah Abdomen Dan Dampaknya Terhadap Gastro Intertinal
Bedah abdomen adalah prosedur bedah yang dilakukan pada rongga perut
dan organ-organ di dalamnya, termasuk lambung, usus halus, usus besar, hati,
pankreas, dan organ pencernaan lainnya. Intervensi bedah ini mencakup berbagai
prosedur, seperti reseksi usus, laparotomi, anastomosis, dan prosedur-onkologi
yang memerlukan manipulasi langsung terhadap struktur gastrointestinal. Prosedur
bedah tersebut sering kali dilakukan dalam kondisi patologis yang serius, seperti
kanker kolon, obstruksi usus, atau infeksi intra-abdominal. Manipulasi jaringan
usus selama operasi menghasilkan respon fisiologis yang kompleks termasuk
trauma jaringan, aktivitas inflamasi, dan gangguan sistem saraf otonom yang
berkontribusi terhadap perubahan motilitas usus.
Pasca bedah abdomen, banyak pasien mengalami gangguan pada fungsi
gastrointestinal, yang biasa dikenal sebagai postoperative ileus (POI) atau ileus
pasca operasi. POI merupakan kondisi di mana motilitas usus terhambat sementara
setelah operasi, sehingga mengakibatkan tertundanya pergerakan gas dan isi usus,
intoleransi terhadap asupan oral, distensi abdomen, serta keterlambatan pemulihan
fungsi saluran cerna. Kondisi ini dapat berlangsung beberapa hari pasca operasi dan
merupakan salah satu penyebab utama perpanjangan masa rawat inap serta
peningkatan biaya perawatan (Traeger, Koullouros and Kroon, 2023).
Patofisiologi POI sangat kompleks dan melibatkan beberapa mekanisme.
Aktivasi respon inflamasi akibat trauma jaringan usus memicu infiltrasi sel imun
seperti makrofag dan mastosit yang melepaskan sitokin pro-inflamasi. Respon saraf
otonom juga berubah, di mana aktivitas sistem saraf simpatik meningkat dan
menghambat motilitas usus, sementara parasimpatis kurang terstimulasi. Selain itu,
penggunaan obat analgesik opioid pasca operasi menghambat kontraksi otot polos
usus melalui aktivasi reseptor -opioid, sehingga memperparah ileus. Faktor lain
seperti anestesi, manipulasi usus, dan manipulasi abdominal juga berkontribusi
6
7
pada dysbiosis mikrobiota usus dan perubahan metabolitnya, yang turut
memengaruhi pemulihan motilitas intestinal (Ma et al., 2023).
Gangguan fungsi gastrointestinal pasca operasi tidak hanya berdampak
fisiologis, tetapi juga klinis dan sosial ekonomi. Secara klinis, POI dapat
meningkatkan risiko komplikasi seperti muntah, malnutrisi, aspirasi, dan infeksi
saluran cerna. Secara sistem pelayanan kesehatan, POI berkontribusi terhadap lama
tinggal di rumah sakit yang lebih panjang, peningkatan penggunaan sumber daya,
dan biaya perawatan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, analisis meta-analisis
menunjukkan bahwa pasien yang mengalami POI memiliki kemungkinan lebih
tinggi memperpanjang masa rawat dan meningkatkan biaya layanan kesehatan
dibandingkan pasien tanpa POI pasca operasi abdomen (Traeger, Koullouros and
Kroon, 2023).
2.2. Konsep Dasar Pemulihan Fungsi Gastrointestinal
1. Pengertian Pemulihan Fungsi Gastrointestinal
Pemulihan fungsi gastrointestinal adalah proses kembalinya
aktivitas normal sistem pencernaan setelah terganggu oleh kondisi
patologis atau intervensi medis, seperti tindakan bedah abdomen.
Aktivitas ini mencakup koordinasi motilitas usus untuk mendorong isi
saluran cerna, penyerapan nutrisi, serta pengosongan lambung dan
defekasi. Motilitas gastrointestinal yang normal ditandai dengan kontraksi
dan relaksasi otot polos saluran cerna secara teratur melalui interaksi
kompleks antara sistem saraf enterik, hormonal, dan faktor lokal di
dinding usus. Proses ini penting untuk mempertahankan aliran makanan
yang efisien dari lambung ke usus halus dan akhirnya ke usus besar
sehingga nutrisi dan elektrolit dapat diabsorpsi secara optimal. Perubahan
atau gangguan pada salah satu komponen regulasi ini dapat menghambat
pemulihan fungsi gastrointestinal pasca operasi (Prawira and Sueta,
2020).
7
8
2. Proses Fisiologis Motilitas Gastrointestinal Normal
Secara fisiologis, motilitas gastrointestinal tergantung pada tiga
jenis gerakan utama: mixing (pencampuran isi usus), propulsion
(dorongan isi ke depan), dan separation (pemilahan antara isi padat dan
cair). Ketiga pola ini bersifat terkoordinasi dan dipengaruhi oleh sistem
saraf otonom serta refleks enterik lokal yang bertujuan mempertahankan
transit yang efisien dalam saluran pencernaan. Ketika sistem ini bekerja
efektif, peristaltik usus, sekresi enzim pencernaan, dan koordinasi sfingter
bekerja secara harmonis untuk menjamin fungsi gastrointestinal yang
sehat (Prawira and Sueta, 2020).
Pada keadaan pasca operasi, terutama setelah tindakan bedah
abdomen besar, fungsi motilitas ini terganggu oleh beberapa faktor.
Trauma jaringan akibat manipulasi usus, efek anestesi umum, respon
inflamasi lokal dan sistemik, serta pemberian obat-obatan tertentu seperti
analgesik opioid, semuanya dapat menekan sistem saraf enterik dan
memperlambat kontraksi otot polos usus. Kondisi ini menyebabkan
ditegakkannya fenomena yang dikenal sebagai postoperative ileus (POI),
yaitu penurunan atau hilangnya koordinasi gerakan usus yang
menghambat pengosongan lambung dan transit usus. POI umumnya
ditandai dengan keterlambatan keluarnya gas (flatus), intoleransi terhadap
asupan oral, distensi abdomen, dan keterlambatan buang air besar.
3. Gangguan Motilitas Gastrointestinal Pasca Bedah Abdomen
(Postoperative Ileus)
Dalam konteks klinis, pemulihan fungsi gastrointestinal dinilai
dari parameter-parameter yang terkait dengan kembalinya motilitas usus
yang efektif. Parameter tersebut mencakup waktu kemunculan bising usus
yang terdengar pada auskultasi, waktu keluarnya gas pertama (first flatus),
waktu pengosongan lambung, serta kemampuan toleransi terhadap diet
oral. Kembalinya salah satu atau beberapa indikator ini menjadi tanda
bahwa saluran cerna mulai berfungsi kembali secara normal setelah
8
9
operasi. Secara umum, peristaltic wave yang terkoordinasi merupakan
dasar utama pemulihan fungsi ini, di mana reseptor dan refleks saraf
mengatur kontraksi otot untuk mendorong isi usus melalui saluran cerna
(Gandi, dkk., 2022).
4. Manifestasi Klinis dan Dampak Postoperative Ileus terhadap Pemulihan
Pasien
Pemulihan fungsi gastrointestinal tidak hanya bergantung pada
faktor fisiologis intrinsik, tetapi juga dipengaruhi oleh intervensi
perioperatif seperti pemberian nutrisi awal, mobilisasi dini, penggunaan
prokinetik, serta pengelolaan nyeri yang baik tanpa mengandalkan opioid
jangka panjang. Sebagai contoh, beberapa studi menunjukkan bahwa
pemberian agen yang meningkatkan motilitas usus dapat mempercepat
pemulihan transit gastrointestinal, mempercepat defekasi pertama, dan
meningkatkan toleransi terhadap diet oral. Ini menunjukkan pentingnya
kombinasi pendekatan klinis dan non-farmakologis dalam mendukung
kembalinya fungsi GI secara optimal di fase pascapembedahan (Gosavi et
al., 2025).
Secara ringkas pemulihan fungsi gastrointestinal adalah proses
kompleks yang mencerminkan kembalinya koordinasi motilitas usus,
yang menjadi indikator utama efektivitas pemulihan pasca operasi.
Pemahaman konsep dasar ini menjadi landasan penting dalam kajian
literatur yang lebih lanjut tentang efek intervensi seperti mobilisasi dini
terhadap percepatan pemulihan fungsi GI pasca bedah abdomen.
2.3. Mobilisasi Dini dalam Perawatan Pasca Bedah Abdomen
1. Pengertian Mobilisasi Dini Pasca Bedah
Mobilisasi dini pasca bedah adalah intervensi keperawatan yang
dilakukan untuk menggerakkan pasien dari posisi berbaring menjadi
berdiri atau berjalan dalam periode awal setelah pembedahan, biasanya
dalam 24 jam pertama setelah operasi, jika kondisi pasien stabil secara
9