HUBUNGAN ANEMIA PADA KEHAMILAN DAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Author(s):
SRI SUWARNI (20250112003)
Tahun:
2026
Item Type:
Journal
Keyword(s):
Anemia Kehamilan, Balita, BBLR, Stunting.
Abstract :
HUBUNGAN ANEMIA PADA KEHAMILAN DAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN
STUNTING PADA BALITA
Sri Suwarni NPM. 20250112003
ABSTRAK
Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada tahun 2024, prevalensi stunting menurun menjadi 19,8%, yang menunjukkan dampak positif berbagai upaya pemerintah, termasuk perbaikan gizi ibu hamil. World Health Organization (WHO) (2022) menyatakan bahwa Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan indikator penting kesehatan ibu dan anak. BBLR berkaitan dengan kondisi gizi ibu selama kehamilan, termasuk anemia, yang dapat menghambat pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan anemia pada kehamilan dan BBLR dengan kejadian stunting pada balita berdasarkan studi literatur. Pencarian artikel dilakukan melalui PubMed, DOAJ, Elsevier, Google Scholar, dan Portal Garuda menggunakan kata kunci anemia kehamilan, riwayat BBLR, dan kejadian stunting. Dari hasil pencarian diperoleh 92 artikel periode 20202025, kemudian disaring berdasarkan kesesuaian topik dan diperoleh 9 artikel yang sesuai untuk ditelaah. Hasil telaah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara anemia pada kehamilan dan riwayat BBLR dengan kejadian stunting pada balita. Ibu hamil diharapkan meningkatkan kesadaran menjaga status gizi dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran, dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang untuk mencegah anemia.
STUNTING PADA BALITA
Sri Suwarni NPM. 20250112003
ABSTRAK
Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada tahun 2024, prevalensi stunting menurun menjadi 19,8%, yang menunjukkan dampak positif berbagai upaya pemerintah, termasuk perbaikan gizi ibu hamil. World Health Organization (WHO) (2022) menyatakan bahwa Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan indikator penting kesehatan ibu dan anak. BBLR berkaitan dengan kondisi gizi ibu selama kehamilan, termasuk anemia, yang dapat menghambat pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan anemia pada kehamilan dan BBLR dengan kejadian stunting pada balita berdasarkan studi literatur. Pencarian artikel dilakukan melalui PubMed, DOAJ, Elsevier, Google Scholar, dan Portal Garuda menggunakan kata kunci anemia kehamilan, riwayat BBLR, dan kejadian stunting. Dari hasil pencarian diperoleh 92 artikel periode 20202025, kemudian disaring berdasarkan kesesuaian topik dan diperoleh 9 artikel yang sesuai untuk ditelaah. Hasil telaah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara anemia pada kehamilan dan riwayat BBLR dengan kejadian stunting pada balita. Ibu hamil diharapkan meningkatkan kesadaran menjaga status gizi dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran, dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang untuk mencegah anemia.